Menjaras Memori Kolektif Jilid 2: Juru Kunci Menuliskan Ingatan dan Ucapan

 Oleh: Winda Ayu Ghaniyah

Peserta dan pendamping menjaras memori kolektif jilid 2 (dok. Panti Baca Ceria)



Panti Baca Ceria kembali menggelar kegiatan Menjaras Memori Kolektif Jilid 2 dengan mengusung tema “Tradisi Lisan menjadi Tulisan”. Kegiatan ini menghadirkan para juru kunci sebagai peserta utama, dengan tujuan mendokumentasikan pengetahuan lokal yang selama ini diwariskan secara lisan. Acara ini dilaksanakan di Sumedang serta melibatkan juru kunci dari berbagai wilayah yang ada di Sumedang. Selama ini mereka berperan sebagai penjaga situs, tradisi, serta cerita turun-temurun yang hidup di tengah masyarakat.


Ketua pelaksana kegiatan dari Panti Baca Ceria, Ipul Saepuloh, menyampaikan bahwa tradisi lisan memiliki risiko hilang jika tidak segera didokumentasikan, “banyak pengetahuan lokal yang hanya disampaikan dari mulut ke mulut. Jika tidak dituliskan, ada kemungkinan hilang bersama waktu,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, para juru kunci didorong untuk menuliskan pengalaman, cerita, serta pengetahuan yang mereka miliki. Proses ini menjadi hal baru bagi sebagian peserta, mengingat mereka lebih terbiasa menyampaikan cerita secara lisan.


Peserta yang terlibat dalam kegiatan Menjaras Memori Kolektif Jilid 2 ini ada 20 orang juru kunci dan 5 orang pelestari lisan. Disamping itu terdapat 5 penulis pendamping juga 5 seniman visual yang nantinya akan merespon tulisan 25 peserta melalui gaya seniman visual masing-masing. Para penulis pendamping nantinya akan mengiringi kegiatan para peserta untuk mewujudkan tulisan yang utuh sampai menjadi sebuah buku antologi. 


Adapun lini masa kegiatan ini berlangsung mulai dari bulan Maret sampai Juni 2026. Minggu, 29 Maret 2026 dilaksanakan Gelar Wicara dengan para narasumber yakni Rd. Luky Djohari Soemawilaga, Muhammad Andi Lesmana, Rony Hidayat Sutisna, dan Bunga Dessri Nur Ghaliyah. Dalam gelar wicara itu para narasumber memaparkan bahwa pentingnya mendokumentasikan tradisi lisan menjadi tulisan. Kemudian Minggu, 5 April 2026 dilaksanakan Lokakarya Juru Kunci Menulis dengan pemaparan dari Ipul Saepuloh (Pendiri Panti Baca Ceria), Rd. Deny Soemawilaga (Ketua Yayasan Juru Kunci Sumedang) dan juga para mentor yakni Windu Mandela dan Dadan Andana. Selanjutnya pada 5-30 April 2026 dilaksanakan kegiatan penyusunan dan pendampingan penulisan. Untuk bulan Mei 2026 dilakukan proses pengkaryaan seniman visual. Juni 2026 akan menjadi kegiatan puncak Gelar Karya yaitu peluncuran buku antologi dan pameran karya visual. 

Kegiatan Lokakarya Juru Kunci Menulis (dok. Panti Baca Ceria)


Selama kegiatan berlangsung dari tanggal 5-30 April 2026, peserta mengikuti sesi pendampingan menulis. Mereka nantinya dituntut aktif menuangkan ingatan ke dalam bentuk tulisan, mulai dari sejarah tempat, mitos lokal, hingga pengalaman pribadi dalam menjaga tradisi. Salah satu peserta mengaku kegiatan ini memberinya cara baru dalam menjaga warisan budaya. “Biasanya kami hanya bercerita. Sekarang kami belajar menulis agar cerita itu bisa dibaca oleh lebih banyak orang” ujar salah seorang peserta. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang literasi, tetapi juga upaya pelestarian budaya. Dengan mendokumentasikan tradisi lisan ke dalam tulisan, diharapkan pengetahuan lokal dapat diakses oleh generasi berikutnya.


Menjaras memori kolektif ini sebelumnya sudah pernah dilaksaanakan pada tahun 2024 dengan fokus yang sama yaitu pendokumentasian 10 objek pemajuan kebudayaan Sumedang melalui tulisan masyarakat yang bekerjasama dengan Goethe Institut Bandung. Pada 2024 yang lalu, penulisnya merupakan penulis aktif, juga menghadirkan seniman residensi yang menvisualkan seluruh objek yang diteliti oleh penulis.


Panti Baca Ceria berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak pelaku budaya. Dokumentasi yang dihasilkan nantinya diharapkan menjadi arsip penting bagi masyarakat, khususnya dalam menjaga memori kolektif di tengah perubahan zaman.


Editor: dpebriansyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar