Puspa Karima: Wanoja anu Ngageunjleungkeun

Oleh: Suryajow


Personel Puspa Karima (dok. Kacapaesan)


Yayasan Puspa Karima indonesia menggelar konser yang berjudul Wanoja Sadayana 'Gelar Geunjleung Puspa Karima' pada hari Jum'at, 23 Januari 2026. Pertunjukan ini digelar di Aula Graha Sanusi Hardjadinata Universitas Padajadjaran. Kegiatan ini difasilitasi oleh Pusat Budaya Sunda UNPAD dalam agenda rutinnya yaitu Pagelaran Rumawat Padjadjaran ke 109. Dalam pertunjukannya Puspa Karima menampilkan beberapa genre kesenian tradisi Sunda, diantaranya yaitu Seni Pantun, Seni Reak, Celempungan, Tarawangsa, Tembang Sunda Cianjuran, Ibing Pencak Silat, Tanji, Ketuk Tilu, dan Wayang Golek. 


Menariknya pertunjukan ini dimainkan oleh perempuan, seperti disebutkan pada judulnya 'Wanoja Sadayana' dalam bahasa Sunda yang berarti perempuan semuanya, ini hal yang tidak biasa dalam kesenian tradisi Sunda pada umumnya. Khususnya dalam genre tertentu, seperti misalnya Wayang Golek, dan beberapa kesenian lain penampilannya didominasi oleh praktisi pria. Hal ini mematahkan stigma terhadap kaum perempuan bahwa mereka hanya sekedar penyanyi atau penari belaka. Atau seperti misalnya dalam ranah rumah tangga, setelah menikah perempuan hanya berkaitan dengan tugas dosmetik . Sama halnya dalam berkesenian, kaum perempuan kerap di pandang hanya sebagai pemanis saja, atau bahkan ketika ingin belajar alat musik tradisi perempuan sering di bilang lebih baik menjadi pesinden, atau penari saja. Ini terjadi di beberapa kalangan seniman tradisi terkait pandangannya terhadap kaum perempuan yang disepelekan. Meskipun tidak semua melakukan hal demikian, namun hal ini pula banyak dinormalisasi oleh beberapa seniman tradisi.

Antusiasme penonton ketika Puspa Karima menampilkan kesenian Tanji. (dok. Kacapaesan)


Puspa Karima dalam konsernya membuka pikiran kita tentang sebuah ruang berkembang, mereka membuktikannya melalui karya pertunjukan konser Wanoja Sadayana 'Gelar Geunjleung Puspa Karima'. Puspa karima telah membuktikan bahwa dengan pertunjukan ini bukan persoalan siapa yang lebih baik, dan siapa yang lebih mampu, ini mengenai kesetaraan, dan soal keseimbangan bagaimana sesama manusia bisa saling mengisi ruang dalam sebuah proses, terlepas dari konteks gender. Konser ini bukan pagelaran biasa, akan tetapi ini adalah proses penciptaan sejarah, dimana belum pernah ada pertunjukan seni tradisi yang didalamnya perempuan semua serta tiap penampil memainkan dan menguasai beberapa instrumen musik yang berebeda.


Editor: Venolisme


Tidak ada komentar:

Posting Komentar